[ADS] Top Ads

Nobar Lagi: Nice Try Timnas Indonesia.



Indonesia gagal lagi setelah 6 final-nya di ajang AFF Suzuki Cup.
Sebuah pertandingan yang berat untuk Indonesia setelah kalah 0-4 dari Thailand di leg pertama babak final Piala AFF. Di leg kedua pun Indonesia harus berjuang mati-matian untuk mengejar poin ketertinggalan. Sayangnya, Timnas Garuda gagal karena hanya mampu menahan imbang Thailand dengan skor 2-2. 

Di babak pertama, Indonesia unggul lebih awal lewat gol cepat R. Kambuaya pada menit 8. Pertandingan babak pertama Indonesia tampil bagus dengan menekan Thailand. Sayang sekali pada babak kedua, Thailand tampil menguasai sepanjang babak dan mampu mencetak 2 gol balasan. Indonesia lewat kaki Egy Maulana Vikri mampu menyamakan kedudukan di sisa 10 menit babak kedua.

Bagaimana? Sudah cocok jadi penulis berita olahraga belum?

Nggak ding, jadi aku baru saja menonton pertandingan Indonesia melawan Thailand. Biasa, nobar di rumah Parjono supaya lebih seru. Indonesia memang kalah, namun aku pribadi cukup senang. Kekalahan tadi bukan sebuah hal yang memalukan. Mereka berjuang habis-habisan.

Timnas Thailand Lebih Matang

Bagaimana ya, memang harus diakui kalau Thailand lebih matang. Di sisi lain, Indonesia juga menurunkan tim muda di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong ahjussi. Aku pikir Shin Tae-yong membawa warna baru untuk timnas. Ahjussi suka pemain muda. Itu bagus untuk membentuk sebuah tim untuk jangka panjang.

Rata-rata umur yang dibawa Ahjussi pada ajang Piala AFF ini adalah 23,7 tahun. Selain itu, pemain yang berlaga ini masih minim pengalaman. Ahjussi pun mengakui hal tersebut. Untuk sebuah tim yang bisa dibilang baru dibentuk ini adalah sebuah pencapaian luar biasa.

Garuda Bermain Spartan

Meski kalah dengan skor yang telak di leg pertama, namun Asnawi dan kawan-kawan bermain spartan. Tidak ada kata menyerah, berlari dan terus berlari berjuang sekuat tenaga. Yaaaa, meskipun akhirnya perjuangan mereka masih belum cukup untuk membawa Indonesia meraih juara.

Melihat mereka bermain seperti tidak ada kata menyerah. Aku sebagai penonton, untuk mencetak 4 gol disisa waktu kurang 4 menit jelas mustahil. Eh, tidak mustahil tapi kemungkinannya sangat kecil dan jarang-jarang terjadi. Aku sudah tau akan kalah, tapi melihat mereka aku tetap menontonnya. Solemon (salah satu julukan tetanggaku) saja pulang ketika Thailand mencetak gol keduanya sekaligus membalikkan keadaan.

Aku tidak lagi menonton untuk mengharapkan sebuah kemenangan, tapi aku nonton untuk melihat mereka berjuang.

Asnawi Hebat!

Semuanya hebat, sudah berjuang keras tanpa kenal lelah. Tapi Asnawi tidak hanya punya tekanan harus mengejar 4 gol ketertinggalan. Tekanan Asnawi lebih dari itu. Imbas tindakannya kepada Faris saat gagal mengeksekusi penalti pada saat melawan Singapura di semifinal membuatnya jadi bulan-bulanan publik Singapura.

Setiap kali Asnawi memegang bola, penonton menyorakinya. Apalagi bermain di Singapura, tentu banyak warga Singapura menonton meskipun negaranya sudah gugur lebih awal. Meskipun di bawah tekanan penonton yang terus menyorakinya, Asnawi mampu bermain bagus. Itu sebabnya pada tulisan ini aku memberinya sub-judul tersendiri untuk Asnawi.

Beberapa kali Asnawi melakukan tackle bersih di saat-saat penting. Bermain 90 menit full dan performanya tidak menurun di akhir.

Aku Memahami Mereka

Sebagai orang yang pernah bermain bola meskipun hanya sebatas tingkat SMA, aku sedikit paham tentang bagaimana perasaan mereka.

Misalnya ketika mereka kehilangan bola, pasti langsung reflek 'aku harus ambil bola itu lagi apapun yang terjadi'. Apalagi di saat tim tertinggal, di mana kita harus segera mencetak gol sesegera mungkin. Namun, karena sedikit emosi, akhirnya kita melakukan pelanggaran sendiri karena merasa harus bertanggung jawab atas direbutnya bola dari kaki kita.

Kuncinya, kita tidak boleh kehilangan bola lagi. Karena sekelas Paul Pogba pun sering melakukan pelanggaran konyol saat dirinya kehilangan bola.

Begitupun ketika seorang pemain berlari dari sayap menggiring bola beradu sprint dengan bek lawan. Kemudian harus mengurangi kecepatan dan bersiap untuk memberikan umpan atau melakukan shoting. Belum lagi, harus menahan badan yang dipepet lawan. Eh, sumpah itu kaki mau nendang rasanya lemes banget. Apalagi aku bukan atlet yang biasa olahraga fisik.

Aku paham ketika tendangannya terlalu pelan, melenceng atau melambung. Selain kaki lemes, juga kadang posisi bola dan kaki tidak pas.

Memang, kesalahan seperti pelanggan yang tidak perlu dilakukan atau tendangan yang tidak terarah tidak boleh terjadi saat bermain. Apalagi sudah levelnya timnas. Aku hanya sedikit sebal ketika penonton langsung teriak 'Goblok!', atau segala cacian lain. Ih, itu kebanyakan yang suka teriak-teriak paling keras biasanya memang orang yang cuma nonton. Tidak tau rasanya saat bermain.

Pertahankan Shin Tae-yong!

Aku gak suka ya kalo PSSI gonta-ganti pelatih hanya karena gagal meraih gelar. Dibawah kepelatihan Shin Tae-yong, permainan timnas mulai berkembang. Kegagalan di Piala AFF ini bukan kesalahan pelatih.

Aku pikir, sebabnya adalah karena timnas masih belum matang. Ini baru dibentuk lho! Di saat bersamaan, lawannya adalah Thailand yang lebih berpengalaman, lebih matang, lebih banyak jam terbang. Kekalahan ini hanyalah awalan untuk Indonesia menjadi tim jagoan di masa mendatang.

Shin Tae-yong adalah investasi jangka panjang. Melahirkan tim hebat tidak bisa dilakukan dengan instan.

Kekurangan Indonesia Saat Ini

Ini hanyalah sebuah pendapat pribadi. Tulisan ini pun hanya subjektif sesuai apa yang aku lihat. Dari kacamata orang awam, karena aku bukan pengamat sepakbola.

Berdasarkan pertandingan yang sudah dilakukan di gelaran Piala AFF Suzuki 2020 ini, masih ada beberapa hal yang harus segera dibenahi.

Pertama adalah satu-dua sentuhan. Kadang kita melihat pemain masih terlalu lama memegang bola. Mengurangi pelanggaran yang tidak perlu atau berani melakukan pelanggaran di saat yang tepat.

Finishing. Kadang beberapa peluang didapatkan dan seharusnya dapat dikonversi jadi gol, namun malah terbuang sia-sia.

Transisi menyerang-bertahan. Indonesia seringkali kerepotan saat mendapat serangan balik dari lawan. Pemain belakang kadang keteteran dan kadang juga melakukan blunder yang menjadikan lawan dan mencetak gol.

Jarak antar pemain kadang terlalu jauh, umpan-umpan tidak akurat dan sering miss komunikasi.

Masih Ada Kesempatan

Meskipun hari ini kalah dan takluk dari Thailand, namun permainan Indonesia sedikit lebih hidup. Ke depan dinahkodai oleh Shin Tae-yong ahjussi aku percaya Indonesia akan menjadi tim yang kuat.



Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Copyright © 2021

Adittp.com ~ Adit Tian