Mitos Brutu dan Konspirasinya, Ternyata...



"Bocah cilik aja mangan brutu, ora ilok!"

Itulah yang sering ku dengar sewaktu kecil dulu. "Anak kecil jangan makan pantat, pamali!", begitu kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai anak kecil yang polos dan belum punya banyak dosa, aku percaya-percaya saja. Apalagi orang tua sudah ngomong 'ora ilok', pasti itu adalah hal yang pantang untuk dilanggar.



Tapi dalam benak bocah kecil nan imut ini tentu saja menyisakan rasa penasaran yang tinggi. Mengapa anak kecil dilarang mengonsumsi brutu alias pantat unggas entah itu ayam, entok, atau itik. Tapi yang sudah tua boleh. Apa-apaan!



Karena penasaran akhirnya aku bertanya pada kakek, "Kek, kenapa si anak kecil nggak boleh makan brutu?". "Iya, nggak boleh, ora ilok!". Aku jawab lagi dong, "Masa apa-apa ora ilok!". "Brutu itu tempat kotor, tempat lewat tembelek (kotoran), nggak boleh.". 

Sampai sini aku mulai mengerti, brutu itu kotor. Kemudian nenek ikut nyahut, "Kalau anak kecil makan brutu nanti jadi bodoh, nanti pikun! Dulu nenek juga nggak boleh makan brutu sama orangtuanya nenek.", gitu katanya.

Oh jadi, orang yang lanjut usia jadi pikun sebenarnya bukan karena faktor usia, tapi karena mereka suka makan brutu. Wkwkwk, bercanda.

Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi bocah yang lebih besar, dikit. Suatu hari, kebetulan di rumah sedang masak ayam kampung. Seneng dong, siapa sih yang nggak seneng makan lauk ayam, apalagi ayam kampung.

Saat itulah aku tidak sengaja makan brutu untuk pertama kalinya karena saat itu aku mengambil sepotong daging yang menurutku tidak ada tulangnya. Dan itu adalah brutu. 

"Ini apa kok teksturnya beda."
"Kok empuk, kenyil-kenyil."
"Tapi kok rasanya enak."
"Mana nggak ada tulangnya."
"Kulitnya tebel."

Pokoknya enak banget deh, apalagi makannya pakai nasi masih anget yang dimasak lewat tungku, bukan dari magic kom (eh magic kom nulisnya bagaimana si?). Asli enak banget.

Sedang menikmati kelezatan si brutu dan penasaran ini daging bagian mana, tanya dong sama kakek. "Kek, ini apa? Nggak ada tulangnya tapi enak, kenyil-kenyil.".

"Itu brutu.", jawab kakek.

Aku yang sudah menghabiskan setengah piring nasiku terdiam sejenak. Dalam hati aku berkata, "Aku harus bagaimana ini?". Yang kubayangkan saat itu adalah brutu tempat terakhir yang disinggahi tai ayam sebelum mereka dihempaskan ke bumi. 'Crot!'

Akhirnya aku buang brutu itu dan mengambil potongan ayam lagi di meja untuk menghabiskan nasi di piringku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa makan brutu. Saat itu pernah aku makan di sebuah acara kondangan dan aku salah ambil. Ternyata itu brutu. Mau bagaimana lagi, masa sudah ambil tidak dimakan? Kan nggak sopan. Jadi yaaaa, sudah makan saja.

Tapi ada satu hal yang masih membuatku penasaran... Apa iya brutu bisa bikin bodoh dan pikun? Kok bisa? Kalau iya, mungkin itu disebabkan oleh kandungan tai yang masih tertinggal karena kurang bersih. 

Lalu aku cari tahu dong, eh malah nemunya tempe. Aku browsing di internet, lalu muncullah informasi bahwa brutu atau pantat ayam dapat menyebabkan bodoh dan pikun hanyalah sebuah mitos semata. 

Yang ada, brutu malah kaya akan kandungan gizi seperti protein, kalsium, dan zat besi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nutrition and Dietary Studies of America, pantat ayam memiliki kandungan 11% zat besi dan 8% kalsium. Kandungan ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan dada ayam yang umumnya hanya mengandung 8% zat besi dan 2% kalsium. Kita semua tahu bahwa kalsium sangat bagus untuk menjaga kesehatan tulang dan zat besi berguna untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Brutu juga memiliki kandungan lemak yang tinggi karena di sanalah terdapat kelenjar penghasil minyak. 

Wah konspirasi turun temurun nih! Jadi, anak kecil nggak boleh makan brutu karena brutu ini memang rasanya enak. Karena orang-orang tua ingin merasakan kelezatan brutu ini sendiri, akhirnya mereka menciptakan konspirasi bahwa brutu menyebabkan bodoh dan pikun. Sungguh tidak bisa dibenarkan.

Tapi, tapi, tapi...

Meskipun rasanya enak dan lezat, kenyil-kenyil, dan gurih,
kita tidak boleh berlebihan dalam mengonsumsi brutu. Semua yang berlebihan itu tidak baik kan. Kandungan lemak yang tinggi tentu tidak baik dikonsumsi bagi kalian yang sedang diet atau apalah. Mengonsumsi brutu secara berlebihan bisa saja memicu penyakit.

6 komentar

  1. Empuk kenyil kenyil awkwkwkwk. Ager² tah opo mas. 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk, iya lemaknya ada kenyil-kenyilnya mas wkwk

      Hapus
  2. kok sama , dulu juga lagi kecil suka dilarang makan

    BalasHapus
  3. ia gak boleh dimakan dulu

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon