Resah: Dilema Menjelang Pemilu 2019


Tanggal 17 April besok kita akan merayakan pesta demokrasi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden lagi. Tidak cuma itu, kita juga sekaligus akan memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota periode 2019-2024. Sebagai rakyat Indonesia, aku pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menusuk-nusuk wajah mereka-mereka yang mencalonkan diri di kertas surat suara.

Sebagai first voter, ada beberapa hal yang membuat saya dilema menghadapi PEMILU besok, terutama saat akan memilih calon DPRD.

Aku ragu...

Ya, aku ragu dengan pilihanku. Maaf mohon maaf nih ya... Aku nggak kenal mereka sama sekali tapi mereka ingin dipilih. Paling-paling aku kenal mereka di baliho, di poster-poster yang ada di tiang listrik saja. Ya tapikan itu hanya sebatas foto, nama dan sedikit kata-kata pemanis seperti 'merakyat', 'jujur', 'amanah', 'anti korupsi'. Aku pikir itu hanyalah kata-kata default yang yaaaa, sepertinya semua calon pasti mengatakan seperti itu.

Nyatanya aku tidak bisa tergiur dengan tulisan-tulisan di poster atau reklame mereka. Aku juga bukan orang yang bisa membaca pikiran orang hanya dengan melihat fotonya. Visi misi mereka ingin menjadi wakil rakyat pun aku tidak tahu. Memang sih beberapa ada yang mencantumkan visi misi mereka di papan-papan mereka. Tapi tetap saja, itu belum bisa membuat saya berhasrat untuk menancapkan paku di dalam bilik suara. Aku pikir semua orang bisa membuat visi misi seperti itu.

Rayuan gombal...

Beberapa dari mereka ada yang suka memberi rayuan gombal, yaitu bagi-bagi kaos. Kaos termasuk gombal kan ya? Wkwk. Bagi orang-orang mungkin masih ada yang berpikiran 'pilih A saja deh, dia yang ngasih saya kaos dan kalender kemarin, kalau si B kan enggak'. Tapi untuk aku pribadi, aku tidak goyah dirayu dengan gombal. Sudah tipis, ada wajah orang yang nggak kukenal pula.

Dikasih kaos juga buat apa, aku kan sudah punya banyak kaos di lemari. Lagipula, kaos-kaos itu juga nggak bisa dibawa buat kencan. Ya bisa sih kalau nggak malu, tapi kan nggak etis juga masa ketemu doi pakai kaos partai dan caleg. Selain itu, aku kan jomblo, mana mungkin kencan. Ujungnya paling buat ke sawah atau berakhir jadi keset dan lap panci.

Aku juga sudah punya kalender, selain yang nempel di tembok, juga ada kalender di smartphone. Bagi-bagi kalender buat apa, sekarang lagi pemanasan global. Malah ngabisin pohon buat dijadikan kalender.

Tetap harus memilih...

Meskipun begitu, aku tetap harus memilih. Inikan demi kepentinganku sendiri. Mereka kan orang-orang yang berhak membuat Perda (Peraturan Daerah). Kalau sampai salah pilih, kemudian muncul Perda aneh, kan aku juga yang repot karena mau tidak mau harus menaati Perda aneh tersebut.

Nyatanya banyak Perda aneh di daerah-daerah Indonesia ini. Berikut beberapa contoh Perda yang dirasa cukup aneh:

Perda Kabupaten Purbalingga yang mewajibkan PNS memakai batu akik. Faedahnya apa coba, apakah dengan memakai batu akik bisa mengentaskan masyarakat dari kemiskinan?

Perda Kabupaten Purwakarta No.70 Tahun 2015
Desa Berbudaya, dikenal dengan perda waktu kunjung pacar yang dibatasi sampai pukul 9 malam. Jika kedapatan melewati jam itu akan dikawinkan paksa.
Ini sih lumayan berguna buat pasangan yang ingin nikah tapi belum punya dana dan/atau terkendala restu orangtua.
Begini strateginya:

Cewek: Sayang, kapan mau nikahin aku kita udah pacaran 4 tahun lho.
Cowok: Tapi Yang, aku belum siap, aku belum dapet kerja. Lagian ibu kamu juga kayaknya nggak suka sama aku. Gimana dong?
Cewek: Aha! Aku ada ide Yang... Kita manfaatkan Perda No.50 Tahun 2015. Nanti malem, kamu apel ke rumah aku sampe lewat jam 9 malem. Nah, kita kan melanggar aturan, kita bakal dinikahin secara paksa. Dan ibuku mau nggak mau harus merestui hubungan kita. Aku pinter kan?
Cowok: Ide bagus tuh, kamu memang cerdas.

Perda Kota Tangerang No.8 Tahun 2005: Pelarangan Pelacuran
Adanya penerapan jam malam bagi perempuan akan dianggap sebagai PSK dan ditertibkan jika lewat jam malam yang ditentukan. Ini bisa berbahaya saat terjadi gempa bumi melanda dini hari.
Bapak: Nak, ayo keluar, ada gempa bumi.
Anak: Nggak mau Pak. nanti aku auto jadi PSK.

Dan masih banyak perda aneh lainnya yang rasanya cukup 'wagu'. Oleh karena itu, kita juga harus peduli dan pandai memilih caleg yang tepat karena itu untuk kepentingan kita sendiri. Tapi bagaimana kita bisa menentukan caleg yang pas dan layak untuk dipilih menjadi wakil rakyat? Kalau Capres dan Cawapres kan ada debatnya jadi bisa lebih tahu setidaknya bagaimana mereka akan membawa Indonesia untuk lebih maju lagi. Ada debatnya saja kadang masih bikin bingung, apalagi yang nggak ada sama sekali? Mau beli kucing dalam karung?

Cari tahu sendiri...

Karena takut memilih calon yang salah, aku inisiatif dong cari tahu sendiri tentang mereka-mereka itu. Aku pun mengakses beberapa situs yang bisa memberi informasi tentang para calon legislatif.

1. Info Pemilu KPU (https://infopemilu.kpu.go.id/pileg2019/dapil/view)

Ini adalah situs resmi milik KPU, namun yaaaaaaa begitulah situs-situs pemerintah kebanyakan. Loading berat dan tidak mobile-friendly.

2. PintarMemilih.id

Kalau ini sih lumayan mudah diakses, hanya saja datanya tidak begitu lengkap. Lihatlah ketika aku mencari profil Caleg untuk daerahku. Data belum tersedia.


3. Calegpedia.id

Di Calegpedia aku bisa mencari data caleg lengkap. Hanya saja hanya ada profil dan biodatanya saja. Tapi di Calegpedia ini juga ada informasi terkait caleg-caleg yang pernah terlibat kasus korupsi dengan ditandai dengan warna orange. Tinggal klik sesuai caleg yang hendak kita cari.


Itu sih yang bisa kulakukan untuk mencari tau tentang caleg-caleg. Tapi rasanya masih kurang lengkap, karena hanya sebatas biodata profilnya saja. Karena yang ada hanya sebatas nama, tempat dan tanggal lahir, dan dokumen-dokumen persyaratan, haruskah aku menganalisa para caleg dari tanggal lahir dan shio mereka? Haruskah aku berkonsultasi dengan ahli astrologi dan Roy Kiyoshi?

Aku pikir sekarang masih susah untuk menentukan siapa caleg yang menurutku paling layak untuk menduduki kursi kekuasaan. Bagaimana aku bisa menggunakan paku pusaka yang hanya kugunakan 5 tahun sekali ini dengan sebaik-baiknya? Aku nggak mau salah pilih dong. Mana jalan-jalan utama di Kebumen rusak-rusak semua pula. Udah lama banget belum ada perbaikan. Hilih jadi curhat kan?

Itulah keresahanku menghadapi Pemilu 2019 ini. Hadeuh!

0 Comments

Posting Komentar