Kami Setia Mendukung, Timnas dan PSSI Bisa Apa? - ADITTP.com

Kami Setia Mendukung, Timnas dan PSSI Bisa Apa?


Animo masyarakat Indonesia terhadap sepakbola begitu tinggi, bahkan menjadi yang paling tinggi di Asia. Jelas saja, itu terlihat dari jumlah penonton yang hadir setiap Timnas berlaga di lapangan hijau. "Yo Ayo, Ayo Indonesia. Ku ingin... Kita harus menang...", yel-yel yang paling sering terdengar dari para pendukung loyal Timnas. Baik itu pertandingan kandang atau melawat ke markas lawan, yel-yel itu tetap selalu berkumandang. Terlebih ketika semua suporter menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memulai kick-off babak pertama dimulai. Sungguh membuat bulu kuduk berdiri , kagum sekaligus terharu melihat dan mendengar hal tersebut.

Sayangnya, tingginya dukungan belum juga membuat Timnas meraih prestasi. Doa-doa seluruh rakyat negeri ini masih belum juga terkabul. Garuda yang seharusnya terbang tinggi, nyatanya masih terseok seperti kehilangan sayap lebarnya. Terlebih pada hasil gelaran Piala AFF 2018 yang kini sedang berlangsung. Hansamu Yama cs harus rela pulang awal karena kandas di babak penyisihan grup. Timnas seperti mengalami penurunan performa karena hanya mampu meraih satu kemenangan 3-1 dari Timor Leste, takluk dari Singapura (0-1), dipaksa menyerah oleh Thailand (2-4), dan imbang dari Filipina (0-0). Hasil itu jelas tidak cukup untuk membawa Timnas melaju ke babak semifinal apalagi sang rival yang begitu perkasa. Timnas gagal total, dan wajar jika para pendukung Timnas menghujani kritik terhadap penampilan tim asuhan Bima Sakti. Seluruh masyarakat rindu prestasi.


Kini Indonesia seperti kehilangan tajinya. Mengenang masa jayanya, dulu Filipina pernah dicukur dengan skor telak 13-1 ada tahun 2002 dalam ajang Piala Tiger (sekarang Piala AFF). Tapi itu dulu, nyatanya di tahun 2018 ini Tim berjuluk 'The Azkals' ini berhasil menahan imbang Timnas Garuda di SUGBK. Bahkan pernah juga Timnas Garuda dipaksa menyerah dengan skor telak 4-0 November 2014 silam. Harus diakui memang, kalau Filipina mengalami perkembangan yang pesat di Timnas sepakbolanya. Filipina bahkan menjadi negara dengan peringkat FIFA terbaik kedua di kawasan Asia Tenggara setelah Vietnam.

Berbicara peringkat FIFA yang dirilis akhir November 2018, Indonesia masih tetap di peringkat 160 dan menempati posisi kelima terbaik di Asean. Nomor satu adalah Vietnam yang menduduki peringkat 100 dan menjadi satu-satunya negara Asean yang berhasil menembus 100 besar dunia. Filipina dengan peringkat 114, kemudian Thailand yang menempati peringkat 118 dan Myanmar di peringkat 139. Di bawahnya, baru Indonesia (160), Singapura (165), Malaysia (167), Kamboja (172), Laos (184), Brunei Darussalam (195), dan Timor Leste (196).


Itu dari peringkat FIFA, jika dilihat dari prestasi, Timnas Indonesia sudah lama sekali tidak merasakan rasanya menjadi juara. Di ajang AFF saja, dari 10 kali keikutsertaan, prestasi terbaiknya hanya meraih runner-up sebanyak 5 kali yakni pada tahun 2000, 2002, 2004, 2010, dan 2016. Thailand menjadi tim tersukses dengan menjuarai ajang ini sebanyak 5 kali dan menjadi finalis sebanyak 8 kali. Untuk gelar juara AFF 2018, masih menjadi rebutan antara Malaysia melawan Vietnam pada (11/12) untuk leg pertama dan (15/12) leg kedua.

Yang jelas, Timnas harus berbenah untuk bisa bersaing baik di level Asean, Asia, bahkan dunia. Kalau tidak, kita akan semakin tertinggal dari negara lain dan semakin sulit untuk ikut bersaing. Walau sebenarnya usaha memperbaiki prestasi sepakbola negara ini sejak jauh-jauh hari sebelum gelaran Piala AFF 2018 ini. Salah satunya adalah dengan merekrut pelatih sekaliber Luis Milla yang pernah membawa Timnas Spanyol U-21 menjuarai Piala Eropa 2011 lalu. Diboyong Indonesia, Milla diberi mandat untuk melatih Timnas U-23 dan senior sekaligus. Direkrut dengan gaji fantastis pada awal 2017, sayangnya hasilnya masih nihil. Timnas masih belum mendapat prestasi apa-apa sampai tulisan ini diterbitkan. Saat masih diasuh oleh mantan pelatih Real Zaragoza itu, capaian terbaik Timnas Garuda hanya mampu sampai di babak 16 besar Asian Games. Saat itu Timnas U-23 harus takluk secara dramatis dari Uni Emirat Arab lewat babak adu penalti.

Sayangnya, hanya satu setengah tahun Luis Milla melatih Indonesia. Dalam waktu yang terbilang singkat itu, rasanya tidak pantas dikatakan kalau Luis Milla gagal. Meskipun belum membawa Timnas meraih titel, setidaknya mulai terlihat permainan Evan Dimas dkk yang semakin membaik. Semua tidak bisa didapat secara instan dan ada proses yang harus dilalui. Luis Milla jelas butuh waktu untuk bisa membawa Indonesia meraih gelar juara. Yah, meskipun akhirnya kontraknya harus terputus akibat ketidakjelasan dari pihak PSSI.

Para pemain Timnas sendiri menyadari kalau skuat Garuda terus mengalami perkembangan bersama Luis Milla. Berikut adalah beberapa ungkapan pemain Timnas seperti yang dilansir di laman Idntimes.

"Saya berharap kepada siapapun pengambil keputusan saya berharap coach Luis Milla dipertahankan. Karena sepakbola kita yang dulu dengan sekarang terlihat jelas, ada perbedaan. Terimakasih." - Andritany

"Buat saya sih dia pelatih bagus, respect. Sama tetap pengen ada (Luis Milla). Saya senang dilatih coach, dia orangnya disiplin, respek sama pemain." - Irfan Jaya

"Saya pribadi pengen Luis Milla (bertahan). Dia bagus, pintar juga tapi semua terserah PSSI." - Evan Dimas


Selain dari para pemain timnas sendiri, dukungan terhadap Luis Milla untuk tetap melatih Indonesia juga disampaikan oleh para pendukung lewat akun Instagram Milla. Para netizen mendukung Luis dengan membanjiri hashtag #saveLuisMilla, #SaveMilla, dan #StayMilla. Berbagai komentar dukungan untuk Milla juga banyak dilontarkan netizen. Beberapa bahkan menyayangkan keputusan PSSI yang tidak mempertahankan Milla dan mengkritik kinerja PSSI yang dianggap tidak profesional. Itu dulu, pada akhirnya Luis Milla memang harus menyudahi karirnya melatih skuat Garuda.

Padahal dari para pemainnya sendiri mengisyaratkan untuk tetap ingin dilatih Milla, mereka merasakan berbedaan dan kenyamanannya bersama pria asal Spanyol itu. Rasanya, para pemain lebih tahu apa yang mereka inginkan, mereka yang bermain langsung, mereka yang merasakan. Begitupun para netizen yang melihat permainan Timnas menjadi lebih baik. Namun nyatanya, PSSI bisa apa?

Luis Milla secara resmi berhenti menukangi Timnas, padahal saat itu ajang Piala AFF Suzuki 2018 sudah di depan mata. PSSI akhirnya menunjuk Bima Sakti melatih Timnas Garuda. Bima Sakti memang menjadi asisten pelatih saat Timnas masih diarsiteki oleh Milla. Karena hal itu, diharapkan Bima bisa langsung beradaptasi dengan Timnas, begitupun sebaliknya. Namun penunjukan Bima Sakti sebagai pelatih bisa dibilang terlalu mepet dengan dimulainya Piala AFF. Selain itu, para pemain yang sudah nyaman dengan Luis Milla harus dihadapkan dengan orang yang berbeda. Mereka mau tidak mau harus beradaptasi lagi dengan pelatih barunya. Ya, meskipun Bima sudah menjadi asisten pelatih sejak bersama Milla, namun tetap saja mereka adalah sosok yang berbeda. Hasilnya, permainan Timnas di ajang AFF menurun dan tidak lolos ke semi final dengan hanya mengemas satu kemenangan, satu kali imbang dan dua kali kekalahan.

Gagal total di ajang AFF, para suporter mengkritik habis PSSI. Bahkan saat pertandingan terakhir melawan Filipina, chant 'Edy Out' menggema di SUGBK. Chant tersebut dikarenakan para pendukung menilai jika Edy Rahmayadi gagal dalam menjalankan mandatnya sebagai Ketua Umum PSSI. Apalagi beliau yang memiliki dua jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara dan ketum PSSI. Pendukung Timnas menganggap Edy tidak fokus karena dua jabatan yang dimiliki ditambah jarak yang jauh antara Sumatera Utara ke Jakarta. Semua adalah wujud kekecewaan pendukung terhadap persepakbolaan Timnas Indonesia.

Pembenahan sesegera mungkin harus dilakukan jika Timnas ingin berprestasi. Regenerasi sepakbola Indonesia juga harus baik untuk investasi masa depan yang lebih baik. Lihat saja sekarang, baik Timnas senior maupun U-23 sama sekali tidak punya striker murni asli negeri sendiri. Keduanya masih mengandalkan Beto Goncalves yang terbilang sudah tua sebagai mesin gol. Mungkinkah ini salah satu tanda buruknya regenerasi pemain di Indonesia? Tidak hanya di Timnas, dalam kompetisi domestik Liga 1 pun barisan pencetak gol terbanyak didominasi oleh pemain asing.

Hanya Samsul ARIF,
pemain lokal yang mampu bersaing
di 15 besar top skor Liga 1


Untuk kedepan, Timnas Indonesia masih memiliki Timnas U-16, Timnas U-19, yang memiliki pemain-pemain muda berbakat. Bakat-bakat muda ini diharapkan tetap bersinar karena akan menjadi masa depan Timnas Senior di masa depan. Masalah yang sudah-sudah adalah, Timnas Garuda Muda sangat diperhitungkan kekuatannya, namun saat sudah tampil di Timnas senior kenapa jadi melempem? Apa ini karena efek pemanasan global? Jelas bukan dong, ngawur. 

Pendidikan sepakbola sejak dini dengan sistem yang sudah profesional rasanya perlu dilakukan untuk tetap terciptanya bibit-bibit calon pemain terbaik untuk membela Timnas di masa depan. Seperti menggelar kompetisi sepakbola usia dini salah satunya, sehingga talenta yang bagus bisa segera terlihat.

Sebagai orang yang hanya bisa melihat aksi para punggawa Timnas di lapangan hijau, kita hanya bisa berdoa dan terus mendukung. Kita percaya Timnas Indonesia akan berjaya dan menjadi juara. Yang jelas, kita akan tetap setia mendukung Timnas Garuda. Bermainlah sepenuh hati dan berjuang selalu. Forza Indonesia. Timnas memang gagal total di AFF kemarin, tapi yang sudah ya sudah. Kegagalan bukan untuk diratapi, kegagalan adalah sebuah pelajaran untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Ada ajang Piala AFF U-22 2019 di depan mata. Saatnya berjuang meraih prestasi. Kami setia mendukung, Timnas dan PSSI bisa apa?

dok:Sidomi.com

Yang terbaru, ada isu-isu tentang praktik match-fixing dan aneka mafia bola. Yang lebih miris, praktek haram ini dilakukan oleh petinggi PSSI, menyedihkan. Praktek-praktek kotor seperti inilah yang membuat Indonesia sulit berprestasi. Bagaimana bisa orang-orang itu mengorbankan nama baik bangsa hanya untuk keuntungan pribadi. Mereka (mafia bola) adalah pengkhianat bangsa. Apalah arti dukungan para suporter kalau skor-nya sudah diatur.  Harapannya, semoga para mafia ini segera terbongkar dan dibenahi dengan serius. Kesadaran diri adalah hal utama untuk mencegah match-fixing terjadi. Seseorang harus kuat untuk tidak menerima suap untuk menguntungkan diri sendiri dan mengorbankan tim dan negara, begitu juga karirnya.

Perjudian inilah yang membuat beberapa kalangan di dunia sepakbola melakukan pengaturan skor. Tapi masyarakat Indonesia saja masih gemar berjudi, bagaimana praktik pengaturan skor akan bisa berhenti? Daripada berjudi, membakar uang percuma, lebih baik ikut bermain sepakbola di lapangan. Selain rasa senang, badan juga jadi bugar. Lagipula banyak toko yang menjual peralatan sepakbola dengan kualitas yang bagus. Kalau masih ragu dengan kualitasnya, lihat saja review-nya di BukaReview. Berbagai perlatan olahraga, berita, tips juga ada. Setelah puas melihat review produk incaran, bisa juga sekalian beli produknya di Bukalapak. Daripada bermain judi, mendingan menghabiskan waktu untuk hal-hal bermanfaat.






KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel