ADITTP.com: Dunia dan segala isinya.

Blog pribadi yang berisi tentang apa saja yang ada di dunia dan sekitarnya. Berbagi apa saja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Suka-suka saya.

Sabtu, 17 Maret 2018

Netizen Cerewet, Nyinyir, Hingga Minat Baca Yang Rendah




Indonesia merupakan negara dengan populasi yang subur, yakni lebih dari seperempat miliar orang jumlah penduduk negeri ini. Rakyat Indonesia juga sudah mulai melek teknologi, jadi warga sudah tidak begitu kudet informasi. 

Berdasarkan survey mengatakan bahwa netizen Indonesia itu cerewet. Bahkan Jakarta dinobatkan sebagai kota paling cerewet dengan 15 tweet per detiknya. Survey ini dilakukan oleh semiocast.com dan hanya pada platform Twitter saja. Bisa dibayangkan kalau sosial media lain juga di survey mungkin juga hasilnya tidak jauh berbeda.

Di tahun 2016 lalu, survey juga dilakukan oleh AJPII dan hasilnya, sebanyak 132,7 juta manusia di Indonesia punya akses internet. Ini salah satu bukti warga Indonesia sudah melek teknologi. 




Sayangnya, Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Dari 61 negara yang disurvey, Indonesia menempati posisi kedua dengan minat baca terendah. Sangat sekali ya, dengan penduduk sebanyak ini hanya 0,001 warganya yang memiliki minat baca. Wajar saja minat baca rendah, toko buku saja sangat jarang ditemukan. 

Menurut pengamatan saya pribadi di sekeliling lingkungan yang saya tempati, pemuda pemudi generasi bangsa lebih suka bersenang-senang dengan main, nongkrong, hura-hura, pacaran, ya intinya jarang sekali ada yang suka membaca.
Padahal membaca kan jendela dunia, bisa memperluas wawasan dan pengetahuan. Rasanya kita perlu menerapkan budaya membaca sejak usia dini. Perpustakaan dan toko buku diperbanyak lagi. Masa di daerah saya sama sekali tidak ada toko buku. Perpustakaan juga paling ada di sekolah saja, kan menyedihkan.




Hebatnya, Indonesia menjadi negara dengan pemilik gawai terbanyak kelima di dunia. Namun apakah pemiliknya sepintar ponsel pintar miliknya? Hasil survey mengatakan tidak. Ini menunjukan perilaku konsumtif yang tinggi dari warganya. Konsumtif tinggi namun sayang tidak inovatif. Punya smartphone kebanyakan hanya untuk gaya, stalking, game, nyinyirin orang, swipe atas bawah timeline sosial media.

Selain cerewet, netizen Indonesia juga dikenal suka nyinyir. Hampir semua dijadikan bahan nyinyiran, aib dipertontonkan, dan suka bikin sensasi. Zaman sekarang apa-apa di viralkan, suka membagikan konten yang belum jelas kebenarannya. 
Melihat perilaku netizen yang sedemikian rupa, itu sebabnya banyak konten hoax bertebaran, fitnah mudah menyebar, dan tentunya rakyat gampang dipecah belah. Gampang di adu domba, takutnya nanti malah perang saudara. Ayo bersatu Indonesia.

Contoh kasus kecil ketika artis mengunggah foto, selalu saja ada yang nyinyir suka mem-bully. Dan kadang banyak orang norak, alay, dan berlebihan dalam menanggapi sesuatu di media sosial. Apa saya salah? 
Kadang sering ditemui pengguna yang baru membaca judul berita, orangnya sudah nyinyir duluan tanpa melihat isinya.
Mari kita menjadi pengguna internet yang pintar dan bisa menggunakan internet dengan bijak. Sebagai pengguna smartphone, tentu saja kita harus menjadi smart user pula. Jangan jadi orang yang dibodohi oleh kecerdasan teknologi.




Sudah suka nyinyir, bodoh pula. Mengapa saya katakan bodoh? Saya masih suka heran ketika ada postingan minta like dan ketik amin. Postingan gambar, lalu disuruh ketik sebuah angka. Ya intinya postingan model serupa itu. Mengapa banyak orang yang mau menuruti apa yang dipostingan itu? Ketik amin, semua komentar tulisan amin sampai berpuluh-puluh ribu. Ketik angka sembilan, komentar angka 9 semua. Faedahnya apa? 

Mungkinkah kebiasaan nyinyir disebabkan karena minat baca yang rendah? Mungkin iya, mungkin tidak. Wkwk. Tapi biasanya orang yang suka nyinyir, pandai mencari kesalahan orang itu karena pendeknya akal mereka. Ya, katanya seperti itu. 

Masih dari survey, kali ini dilakukan oleh We Are Social dengan laporan berjudul "Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile, and Ecommerce Around the World" pada Januari 2018 lalu. Dari total 7,593 miliar populasi Bumi ini, 4,021 miliar orang punya akses internet. Dan 42% dari total populasi dunia memiliki media sosial. 42% dari total populasi bumi itu artinya 3,196 miliar manusia. 

Dari survey penduduk yang paling lama menghabiskan waktu di internet baik di desktop maupun perangkat mobile di pegang oleh negara Thailand, yaitu selama 9 jam 38 menit. Disusul Filipina 9 jam 29 menit, Brazil 9 jam 14 menit dan Indonesia 8 jam 51 menit.







Sementara paling lama di internet di platform mobile saja, Thailand masih bertengger di atas dengan 4 jam 46 menit, Brazil 4 jam 21 menit. Indonesia menempati posisi 3 dengan 4 jam 17 menit, dan Filipina 4 jam 13 menit. Wajar Indonesia berada di posisi ketiga mengingat banyaknya pemilik smartphone di negeri ini.

Sementara itu, netizen yang paling lama nongkrong di media sosial posisi teratas diisi oleh Filipina 3 jam 57 menit, Brazil 3 jam 39 menit, Indonesia 3 jam 23 menit, dan Thailand 3 jam 10 menit. Dari hasil diatas Indonesia selalu berada di posisi 4 besar.



Untuk pengguna sosial media yang banyak digunakan masih dipegang oleh Facebook dengan 2,167 miliar pengguna. Itu sebabnya Mark Zuckerberg kaya raya, wkwk. Youtube 1,5 miliar, WhatsApp 1,3 miliar, FB Messenger 1,3 miliar, WeChat 980 juta, QQ 843 juta, Instagram 800 juta, Tumblr 794 juta, Qzone 568 juta, dan Sina Weibo dengan 376 juta pengguna.

Oleh karena itu, saya doakan supaya orang yang suka nyinyir di media sosial bisa lebih bijak dalam menggunakan internet. Sempatkan lah waktu beberapa detik untuk ketik amin di komentar dan bagikan postingan ini di media sosial kamu. Kalau tidak, kamu akan jomblo seumur hidup.
Bercanda kok bercanda, saya bukan oknum yang suka posting ketik amin. 

1 Response to Netizen Cerewet, Nyinyir, Hingga Minat Baca Yang Rendah

  1. Minat baca yang rendah membuat generasi muda tak bisa berbuat banyak untuk negerinya. Hemm...saya pun curiga, jangan-jangan penyalahgunaan keuangan negara disebabkan minimnya pengetahuan karena minat baca yang hampir tidak ada. Akhirnya sumber daya alam yg ada hanya dibiarkan ngganggur atau dikelola SDM dari negara lain.

    BalasHapus

Back To Top