ADITTP.com

Blog pribadi yang berisi tentang apa saja yang ada di dunia dan sekitarnya. Berbagi apa saja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Suka-suka saya.

Rabu, 14 Maret 2018

Ketika Pria Berbicara Hari Perempuan Sedunia.




Pada tanggal 8 Maret kemarin, merupakan hari perempuan sedunia. Saya sendiri baru tahu ketika buka beranda Facebook, diberi selamat oleh Facebook untuk ikut menyemarakkan hari itu. Di hari itu, banyak perempuan turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai hal. Mulai dari Jakarta, Jogjakarta, bahkan kota-kota lain di seluruh dunia.

Kita tahu bahwa banyak sekali di berbagai belahan dunia wanita yang masih belum mendapat hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Pelecehan seksual, human trafficking, kekerasan dalam rumah tangga, dan banyak kejadian lainnya yang membuat kita prihatin. 

Namun, saya kaget saat melihat pemandangan tidak biasa dalam Hari Perempuan Sedunia kemarin. Banyak para kaum perempuan menyuarakan dan membawa poster bertuliskan "Tetekku Bukan Urusanmu", "Jangan Ajari kami cara berpakaian, tapi ajari mereka untuk menghormati kami", "Yang salah bukan aurat gue", dan berbagai poster lain yang saya tidak bisa menyebutkan satu per satu. Saya tahu dan paham itu semua untuk menyuarakan supaya tidak adanya lagi pelecehan seksual terhadap wanita. 




Tapi, saya sebagai seorang yang bukan wanita kok jadi merasa itu semua seperti menyalahkan kaum pria. Dan mereka itu benar dan tidak mau disalahkan dengan gaya mereka berpakaian, aurat mereka, dan berbagai hal lainnya. Memang benar, banyak kasus pemerkos**n terjadi, pelakunya laki-laki. Jarang sekali ada berita mengabarkan seorang wanita jadi pelaku pemerkosaan. 

Tapi apakah semua itu murni salah kaum pria? Saya rasa tidak, saya pikir wanita itu sangat berharga. Itu sebabnya mereka harus menutup aurat mereka supaya tidak ada orang ingin mencurinya. Ibarat permen, kalau ada permen masih terbungkus plastik kemasan, adakah semut yang menyerbunya? Tapi kalau ada permen sudah terbuka, meskipun itu sedikit, pasti semut berusaha untuk masuk ke bungkus permen itu. Bukan berarti kaum pria menyalahkan wanita itu sendiri, bagaimanapun juga pria yang melakukan pelecehan itu salah. Namun bukan tidak mungkin pula si wanita itu yang mengundang seseorang untuk melakukan tindakan pelecehan. 



Dengan poster-poster yang mereka tuliskan, seperti mereka ingin berbuat sesuka mereka dengan dalil kesetaraan gender. Tidak peduli mereka mau telanjang, berpakaian seksi, intinya mereka tidak ingin jadi korban pelecehan seksual. Tidak ingin jadi korban pelecehan tapi mereka sendiri tidak menjaga aurat mereka. Bukannya itu seperti rumah yang bagus berisikan harta mewah namun tidak diberikan pengamanan yang baik. Pasti akan ada yang mencoba mencuri harta di rumah itu. Lha wong rumah yang dirasa sudah diberi keamanan yang ketat saja kadang masih dirampok, apalagi yang tidak diberi pengamanan apa-apa.



Memang benar, pelecehan seksual dan semacamnya harus dihapuskan dari bumi ini. Namun semua itu tidak akan terwujud kalau kaum wanita juga tidak menjaga aurat dan pergaulan mereka. 

Semua wanita tidak ada yang mau menjadi korban pelecehan tentunya. Itu akan sangat amat menyakitkan bagi wanita. Ketika harta yang paling berharga direnggut secara paksa, ketika si pelaku dengan seenaknya menikmati harta yang bukan haknya. Dalam kasus seperti ini jelas perempuan akan sangat dirugikan, sementara pelakunya keenakan apalagi kalau tidak ketahuan. Ya pada intinya semua orang entah pria maupun wanita harus bahu membahu menjaga diri mereka. Pria menjaga pandangannya dan wanita menutup auratnya. 

Selain itu yang menyebabkan pelecehan seksual terjadi juga biasanya karena pergaulan yang terlalu bebas. Ketika pacaran misalnya, banyak pasangan kelewat batas. Sudah banyak yang terjadi di Indonesia gadis masih SMP sudah mengandung akibat seks bebas. Beberapa orang menjadi korban, tak jarang pelakunya adalah orang terdekat. Seperti yang terjadi di beberapa kasus di Indonesia. 

Kalau seseorang sudah berpakaian tertutup tapi masih menjadi korban juga, itu soal akhlak dan moral pelakunya yang kurang. Tapi bukan berarti semua terjadi karena kesalahan kaum pria saja. Seharusnya, kalau tahu ada orang dengan akhlak yang buruk, seharusnya lebih berhati-hati, bukan malah memancing mereka dengan auratmu yang menggandul-gandul, menerawang, dan malah kadang sengaja diperlihatkan. 

Wanita, tahu ndak kenapa kalian harus menutup aurat, diciptakan berbeda dengan fisik pria? Itu karena kamu mulia, istimewa, diberi tugas lebih mulia oleh Tuhan. Diberi rahim karena harus mengandung bayi. Ukuran payudara yang berbeda, karena harus menyusui, dan apalagi? Saya baca salah satu poster yang saya tidak unggah disini yang artinya kira-kira "melalui vagina kamu keluar ke dunia". Ya itulah, karena seorang wanita itu sudah kodratnya mengandung. Wanita memang berbeda dari pria. Seorang wanita lebih berharga. 

Kesetaraan gender itu bukan seperti tulisan yang ada di poster-poster yang mereka bawa saat demo. "Tetekku Bukan Urusanmu", "Aurat Gue Bukan Urusan Loe", endhasmu!
Saya pribadi berpikir kalau wanita itu tidak akan bisa disamakan dengan pria, tidak akan pernah bisa sama. Wanita itu lebih tinggi derajatnya dari pria. Apalagi dengan pengorbanan ketika hamil, sakitnya ketika melahirkan, repotnya menyusui, dan banyak sekali yang tidak bisa dikerjakan oleh pria. 

Kesetaraan gender bukan berarti membiarkan mereka berbuat semaunya, telanjang tapi tidak mau jadi korban pelecehan seksual. Pelecehan itu soal bagaimana seseorang menjaga dirinya, menutup aurat bagi wanita, dan menjaga pandangan bagi pria. 

Kalau ini dibiarkan suatu hari nanti akan ada tiba dimana wanita bebas bepergian dengan telanjang. Dan itu menjijikan kalau dibayangkan. Fungsi pakaian bukan lagi menutup tubuh, tapi sebagai hiasan saja. 

Sekian tulisan saya mengenai hari perempuan sedunia. Mohon maaf kalau tulisan saya masih berantakkan. Dan untuk mencegah pelecehan seksual, bukan dengan demo membawa poster berisi tulisan menggelikan itu. Tapi semua kembali kepada pribadi masing-masing orang. 

4 Komentar Ketika Pria Berbicara Hari Perempuan Sedunia.

  1. Ada hari ibu ga ada hari ayah
    Ada ibu kota ga ada ayah kota
    Ada Komnas perempuan ga ada Komnas laki-laki

    #ehh.......

    Kontent artikel nya mantap gan, ane setuju...
    Kaum yng berteriak teteku bukan urusanmu sama golongan orang yang jauh Dr aqidah agama ?

    Mohon di koreksi kalo ada yang salah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir gan, iya itu yang koar2 bahasanya wanita liberalis

      Hapus
  2. setuju mas...perempuan harusnya bisa menghargai laki-laki dari segi penampilan kita. hidup itu saling menghargai lah. perempuan jgn seenaknya ngumbar keseksian depan laki-laki. emang laki-laki punya program pengaman buat menahan semua itu.

    BalasHapus

Back To Top