ADITTP: Update Spesifikasi Android

Blog tentang berita seputar Android, smartphone, spesifikasi, ulasan, dan berita menarik seputar teknologi lainnya.

Senin, 05 Maret 2018

Anoa Hampir Punah, Siapa Yang Harus Disalahkan?


Beberapa waktu yang lalu, saya membaca berita di sebuah portal berita online yang mengatakan bahwa anoa ini semakin berkurang populasinya. Berdasarkan hasil survey, anoa kini hanya tinggal sekitar 2.500 ekor saja di seluruh Sulawesi dan Buton. Sementara di Sulawesi Utara, populasinya diperkirakan hanya tinggal 300 ekor. Wah, sungguh keadaan yang memprihatinkan. Bahkan di Jawa, populasi anoa kini sudah tidak ada, alias punah. (Anoa adalah hewan endemik Sulawesi, jadi tidak ada di Jawa, wajar kalau di Jawa sudah punah.)

Di situs berita yang saya baca, peneliti anoa Diah Irawati Dwi Arini mengatakan bahwa ada banyak faktor, diantaranya dari faktor adat hingga diburu untuk dimakan dagingnya. Saya sangat setuju dengan pendapat Mbak Dwi Ariani itu, karena kalau diburu untuk dimakan bulunya itu agak aneh untuk dibayangkan.

Untuk faktor adat sendiri ada beberapa adat di Sulawesi yang mengharuskan menggunakan daging anoa untuk upacara. Kenapa harus anoa, kenapa tidak daging sapi saja, kan mirip. Apalagi sapi kan dagingnya lebih banyak, jadi penduduknya bisa dapat banyak daging. Pak kepala adat, ganti sapi saja ya buat upacara? Boleh lah pak. 

Selain dua faktor di atas, ada juga beberapa faktor penyebab berkurangnya populasi anoa yang malang ini. Berikut adalah faktor-faktor seperti yang dilansir oleh detik.com.

Deforestasi, atau berkurangnya luas hutan di Sulawesi. Bukan hanya Sulawesi, rasanya deforestasi terjadi hampir di seluruh hutan Indonesia. Dan seperti kasus hewan hampir punah lainnya, kurangnya habitat pasti akan membuat hewan terganggu akan kelangsungan hidupnya.

Perburuan liar oleh pemangsa, iya saya setuju dengan ini. Pemangsa yang dimaksud dan harus diwaspadai adalah manusia. 

Sulitnya perkembangbiakan anoa, seperti yang kita ketahui, tapi kalau belum tahu ya saya kasih tahu. Masa hamil anoa itu memerlukan  waktu 9 sampai 10 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor bayi anak anoa. Meskipun masa buntingnya cukup lama, bukan sebuah halangan kalau tidak ada perburuan anoa. Nyatanya, manusia juga masa memiliki masa hamil 9 bulan tapi populasinya terus bertambah banyak. Kenapa? Karena anoa ini tidak mau memburu manusia. 

Anoa hewan soliter dan agresif, kalau ini sepertinya sudah bawaan dari lahir. Anoa terlahir dengan sifat agresif. Seperti kata pepatah "Tidak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya.", kecuali kalau dibawa kelelawar terus jatuh karena kelelawarnya nabrak tiang listrik. Untuk mengatasi sifat anoa yang soliter dan agresif, perlukah dibawa ke psikolog terdekat? Rasanya tidak perlu. 


"Anoa kecil imut ya?"

Kalau sudah begini, bagaimana tindakan kita untuk mencegah punahnya hewan ini? Masih seperti yang dilansir dari laman detik.com.

Pertama, pengamanan terhadap kawasan konservasi di Sulawesi sebagai habitat anoa. Kalau perlu dijaga setiap waktu supaya tidak ada perburuan terhadap hewan mirip sapi ini. Kalau perlu diadakan ronda keliling.

Kedua, tindakan tegas bagi pelaku perburuan anoa. Kalau nanti ada yang tertangkap basah berburu anoa, mungkin dia kehujanan atau kecemplung di sungai. Nggak nggak! Kalau ada yang tertangkap tangan berburu anoa, perlu ditindak tegas. Bisa dengan denda yang tinggi atau hukuman kurungan penjara yang sangat lama, seperti lamanya aku menunggumu kembali.

Ketiga, edukasi masyarakat tentang anoa, khusunya generasi muda. Kenapa generasi muda, soalnya biasanya yang tua keras kepala, ngeyel. Nggak ding, bercanda. Ayo, semua kalangan dari yang muda maupun yang tua. Mari kita peduli terhadap kelangsungan hidup anoa, supaya tidak jadi punah. Hentikan perburuan anoa, jangan rusak habitatnya, cintai alam ini. 

Keempat, konservasi ex situ anoa seperti di Anoa Breeding Center di BP2LHK Manado.  

Menurut survey, masih ada 14 kawasan konservasi dan hutan lindung yang masih ada anoa di kawasan tersebut. Semoga saja, populasi anoa tidak punah dan semakin banyak orang peduli dengan hewan ini dari kepunahan. 

Oh iya, berkurangnya populasi anoa juga disebabkan daya konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap hewan ini. Hal ini diungkapkan Advisor Program Satwa PPS Tasikoki, Simon Purser.

“Misalnya Minahasa, Sulawesi Utara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen tidak ada pantangan untuk memakan daging hewan ini. Sementara di kawasan lain Sulawesi yang masyarakatnya Muslim, Anoa itu dianggap sapi jadi tidak haram, bisa dikonsumsi,” ujar Simon di Manado, Rabu 8 Februari 2017.

Lalu siapa yang harus disalahkan atas kasus ini? Kita tidak bisa menyalahkan Tuhan Yesus karena tidak memberikan pantangan untuk mengkonsumsi daging anoa. Atau menyalahkan Nabi Muhammad karena tidak pernah bersabda untuk mengharamkan daging anoa. 
Yang pasti kelangsungan hidup anoa, punah tidaknya hewan endemik Sulawesi ini semua tergantung kepada kita, sebagai manusia yang mampu berpikir demi kelestarian lingkungan. 

2 Komentar Anoa Hampir Punah, Siapa Yang Harus Disalahkan?

  1. Sangat disayangkan populasi hewan Anoa ini bisa hampir punah begitu ...

    Sudah sewajibnya pemburu hewan dilindungi ditindak hukuman berat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Himawan, harusnya begitu tapi kita sepertinya masih sering kecolongan.

      Hapus

Back To Top