ADITTP.com

Blog pribadi yang berisi tentang apa saja yang ada di dunia dan sekitarnya. Berbagi apa saja sesuai dengan kehendak pemiliknya. Suka-suka saya.

Senin, 19 Februari 2018

Nostalgia Bermain Petak Umpet



Masa kecil memang selalu menyenangkan dan penuh keceriaan. Bermain, berbagi makanan, ngaji bareng, nonton kartun, semua penuh kesenangan dilakukan bersama teman-teman. Terkadang sering berkelahi ala-ala anak kecil, marahan, ngambek. Semua itu terasa lucu kalau diingat-ingat kembali. Jaman saya kecil ada banyak sekali permainan tradisional yang asyik dan menyenangkan. Apalagi saat itu masih belum ada smartphone. Beda dengan sekarang yang kumpul bersama teman suasana agak berbeda karena adanya gadget. Dulu belum handphone saja masih jarang sekali orang yang punya. 

Saya selalu ingat jaman saya dan teman kecil dulu dengan keluguan dan kepolosan. Terkadang kalau ketemu teman kecil di desa masih suka menceritakan kembali hal-hal dulu yang pernah kami lakukan. Sungguh masa-masa yang takkan pernah terjadi untuk kedua kalinya. Kami pun selalu tertawa saat bernostalgia meskipun kadang ada juga yang tertawa malu dengan tingkah kami saat kecil dulu. Saya sendiri punya pengalaman yang agak memalukan saat kecil dulu. Waktu itu kami sedang bermain petak umpet di sebuah pekarangan kosong milik orang lain. Pekarangan itu sangat luas dan masih rindang oleh pepohonan besar. 

Sebelum bermain petak umpet, kami semua melakukan hom-pim-pa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang jaga. Giliran pertama, saya beruntung karena bukan yang jaga. Yang pertama jaga waktu itu bernama Aris. Aris pun menuju pohon melinjo yang biasa digunakan untuk berjaga dan menghadapkan wajahnya di pohon itu. Dia mulai berhitung dari 1 sampai 10 sementara kami semua berlarian mencari tempat persembunyian yang aman. Ada yang naik ke pohon kelapa, ada yang bersembunyi di lubang galian bekas tempat membuat batu bata. Saya sendiri bersembunyi di balik sekumpulan pohon-pohon kencur dan lengkuas. Banyak nyamuk memang tapi kami semua tahan dengan gigitan-gigitan nyamuk.

Suasana menjadi sunyi karena semua sudah bersembunyi. Hanya Aris seorang yang sedang mengendap-endap seperti singa yang sedang berburu mangsa. Saya dalam persembunyian sudah merasa aman karena tidak pernah ketahuan dan itulah tempat favorit saya. Sedang jongkok sambil mengintip keberadaan Aris, saya dikagetkan dengan hewan kaki seribu yang sedang merayap di samping kaki saya. Karena terkejut dan takut, saya sampai meloncat untuk menjauh dari kaki seribu itu. Karena gerakan itulah pepohonan kencur dan lengkuas bergerak-gerak sehingga Aris curiga dan mendekati tempat saya bersembunyi. 

Dia mendekat dan semakin dekat dan saya hanya bisa pasrah. "Dor! Adit kena!", teriaknya keras. Dalam hati saya hanya bisa menyalahkan kaki seribu yang lewat tadi. "Asem!", dalam hati dengan wajah menyedihkan. Sementara saya sudah ketahuan, teman-teman lain yang menyadari Aris sedang jauh dari pos jaganya segera keluar dan berlari menuju pohon melinjo dan menyentuh pohon itu. Sadar akan hal itu Aris berlari bergegas menuju pos jaganya. Akhirnya hanya sayalah yang ketahuan. Karena masih ada yang belum ketemu, Aris masih terus mencari yang masih bersembunyi. Beberapa menit mencari tidak ketemu juga, akhirnya Aris menyerah. "Bacin!!", teriaknya keras menandakan ia sudah menyerah. Lalu seseorang di atas pohon kelapa membalas, "Aku nang kene. (Aku disini.)", sambil tertawa puas karena tidak ketahuan. 

Karena cuma saya yang ketahuan, saya yang harus jaga saat itu. Rasa sesal masih ada dalam hati dan masih menyalahkan kaki seribu tadi. Akhirnya saya menuju pohon melinjo dan mulai menutup mata sambil berhitung 1 sampai 10. Sedang berhitung, saya hanya mendengar suara langkah kaki mereka berlari mencari tempat sembunyi. Selesai berhitung suasana kembali sunyi seperti hutan hanya terdengar serangga di pepohonan tinggi. Saya mulai mengendap-endap mencari mereka. Saya memeriksa semua tempat yang biasa mereka gunakan untuk sembunyi. Dari pohon kelapa, pohon jambu, tumpukan kayu bakar, bekas lubang untuk membuat batu bata. Hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda mereka di semua tempat itu. 

Saya cuma mbatin dalam hati, "kemana orang-orang? Kok nggak ada ya?". Saya terus mencari mondar-mandir, semua tempat saya periksa. Hampir 15 menit mereka benar-benar tidak menunjukkan diri. Rasa capek dan dongkol mulai terasa. Kemudian saya merasa sedang dipermainkan oleh mereka. Karena lelah lama mencari saya akhirnya pura-pura mencari padahal tidak, soalnya saya tahu mereka sedang mempermainkan saya. Dalam hati saya berpikir, mungkin mereka semua sedang bersembunyi di rumah milik Mbahnya Aji yang kebetulan berjarak sekitar 200 meter dari tempat kami bermain. Aji sendiri ikut bermain petak umpet dan sedang bersembunyi. 

Sebenarnya saya ingin menuju tempat itu, hanya saja hasilnya paling sia-sia. Yang sudah-sudah, mereka bergerombol dalam satu tempat. Jika nanti yang jaga mendekat, mereka semua berhamburan keluar bersamaan dan berlari menuju pohon melinjo. Saya pasti kalah cepat jika harus adu lari dengan mereka apalagi saya paling kecil diantara mereka. 

Hampir 30 menit, saya benar-benar capek dan bosan dan dongkol tentunya. Akhirnya saya pura-pura mencari lagi di lubang tempat membuat batu bata yang berada di tepi jalan. Saya mengendap-endap ke lubang itu, setelah sampai di tempat itu bukannya mencari, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya berjalan dengan perasaan sedikit takut, takut mereka tiba-tiba keluar dan menyoraki saya. Saya mempercepat langkah kaki saya, setelah melewati beberapa rumah, saya baru mulai merasa tenang karena tempat saya bermain petak umpet sudah tidak terlihat. Entah apa yang mereka lakukan di persembunyian saya tidak tahu dan tidak peduli. Intinya saya capek dan mau pulang ke rumah saja. Sampai di rumah, saya makan siang lalu menonton televisi. Acara saat itu adalah Grandsaiser yang tayang di RCTI setiap pukul 14.30 WIB.

Keesokan harinya, tanpa merasa berdosa saya kembali bermain dengan teman-teman yang kemarin bermain petak umpet. Mereka sedang berkumpul di rumah Anto hendak bermain mobil-mobilan dari bambu. Saya yang datang langsung disoraki dan dibully habis-habisan karena kemarin pulang pada saat giliran jaga. Dan benar saja, saat mereka mem-bully-nya saya, mereka mengaku sembunyi di rumah Mbahnya Aji. Saya saat itu beralasan kemarin dicariin sama Mbah disuruh makan dulu namun mereka tidak percaya. Awalnya saya dijauhi dan dijuteki, tapi lambat laun mereka akrab kembali seperti hal itu tidak pernah terjadi. Itulah lucunya pada saat kami masih kecil dengan tingkah lugu dan polos. 

Hari itu saya masih duduk di kelas 3 SD. Itulah salah satu kenangan saya dan teman-teman saat masih kecil dulu. Masih banyak lagi kenangan-kenangan yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal saat bernostalgia ketika sedang kumpul bersama. 

4 Komentar Nostalgia Bermain Petak Umpet

  1. Baca ini aku kangeeeen inget masa kecil :D. Petak umpet mah salah satu permainan kesukaanku.. Apalagi dulu belakang rumahku banyak tempat sembunyi.. :D. Skr mah main petak umpet ama anak2 :p. Cm krn mereka masih kecil, dan si bungsu jg blm tau banget konsepnya, yg ada tiap ngumpet pasti ribut teriak manggilin aku hahahahaha.. Ya jelas ketahuan :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,nggak apa-apa ketahuan, namanya juga main sama anak kecil. Yang gede ngalah wkwk.

      Hapus
  2. Permainan masa kecil dulu itu benar-benar bersosialisasi
    benar-bnar mengajarkan persahabatan masa kecil, penuh dengan canda tawa. Berantem pun hanya sekejap. Besok sdh baikan lagi.
    selain main petak umpet ada bnyak lagi.. yg psti bikin kangen dan seru yg kadang lupa waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir. Iya, beda dengan sekarang. #pengalaman zaman old wkwk

      Hapus

Back To Top